Riri semangat sekali pagi ini. Dia bahkan bangun lebih pagi dari biasanya dan membuat ibunya terheran-heran melihatnya sudah rapi sepagi ini. Sejak semalam Riri sudah berencana akan pergi ke sekolah hari ini dengan sepeda baru hadiah ulang tahun dari ayahnya.
Setiap hari Riri berangkat sekolah pukul 06.30 karena harus berjalan kaki ke sekolah. Dia selalu sarapan dengan terburu-buru karena takut terlambat tiba di sekolah. Tapi hari ini berbeda. Riri menghabiskan sarapannya dengan santai. Dia yakin kalau naik sepeda, dia akan tiba di sekolah lebih cepat dan tidak akan terlambat meskipun berangkat lebih siang.
Setelah menghabiskan sarapannya, Riri pergi ke garasi untuk melihat sepeda barunya. Sudah lama Riri ingin memiliki sepeda berwarna merah tapi baru sekarang ayah mau membelikan untuknya. “Wah sepeda baruku bagus sekali!” kata Riri dalam hati. “Pasti teman-temanku akan iri melihatnya nanti”.
Tidak terasa sudah setengah jam Riri berdiri memandangi sepeda itu. Sudah jam 06.45 sekarang. Ibu mengingatkan Riri untuk segera berangkat ke sekolah kalau dia tidak ingin terlambat sampai di sekolah nanti. Riri buru-buru berpamitan pada ayah dan ibunya.
“Wah jalannya kok sudah ramai ya” pikir Riri. Tiba-tiba dia menjadi sangat cemas, “Rasanya takut juga aku naik sepeda dijalan seramai ini. Bagaimana aku menyeberang di depan sekolah nanti ya?”
Ketika sampai di depan sekolah, Riri berhenti agak lama menunggu jalan sepi supaya dia bias menyeberang. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan sambil berkali-kali melihat ke pintu gerbang sekolahnya yang sudah tertutup. “Aduh, kenapa kendaraan yang lewat jalan ini semakin banyak saja. Kalau begini bagaimana aku bisa menyeberang? Pasti aku akan dimarahi ibu guru karena terlambat” kata Riri dalam hati. Matanya sudah hamper berkaca-kaca, ketika dilihatnya pak Husein, satpam sekolahnya sudah berdiri diseberang hendak menyeberang ke Riri.
Ketika sampai di tempat Riri berdiri, pak Husein bertanya, “Tumben terlambat. Ri? Wah sepedanya baru ya?”
“iya pak, Riri kesiangan berangkatnya. Ternyata jalanan sudah ramai sekali. Riri tidak berani menyeberang” kata Riri.
“Ya sudah ayo sekarang kita menyeberang, kamu sudah terlambat masuk kelas. Sini sepedanya bapak yang pegang”, Kata pak Husein.
“Terima kasih Pak” Kata Riri sesampainya mereka di depan pintu gerbang.
“Besok berangkat lebih pagi ya, jangan kesiangan lagi” kata pak Husein sambil memberikan kembali sepeda Riri.
“Iya Pak, saya masuk ke kelas dulu ya pak” pamit Riri.
Riri berjanji akan berangkat lebih pagi besok. Dia tidak ingin terlambat masuk ke kelas lagi seperti hari ini. Dia tidak ingin dihukum menulis 50 kalimat ‘Saya tidak akan terlambat ke sekolah’ lagi oleh ibu guru seperti hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar