“Mom, Mrs. Linda said we’re going to beach this Sunday” Kata Uni begitu dia menemukan ibunya di dapur sepulang sekolah. “Oh really? Why would you go to the beach for, Honey?” tanya ibunya. “Mrs. Linda said there will be a competition for elementary school students and I will dance with some friends”, Jawab Uni.
Uni berlatih menari dengan teman-temannya setiap hari sepulang sekolah. Mereka berlatih bersama beberapa teman yang lain, dilatih oleh ibu guru mereka. Uni sangat senang karena terpilih sebagai salah satu penari yang mewakili sekolahnya. Dia berlatih sangat keras untuk menghafal gerakan-gerakan tari yang diajarkan ibu gurunya.
Hari Sabtu adalah hari terakhir sebelum hari lomba. Anak-anak mencoba kostum untuk lomba besok. Bu guru membantu mereka memakai kostum-kostum tersebut. Bu Linda bertanya “Has everyone got her or his costume?”. Anak-anak yang sedang bersemangat itupun menjawab “Yes, we have, mam!”. Kemudian Bu Linda berkata, “Now, you may take the costumes off and take them home. But be careful, don’t tear them otherwise you won’t have another one to wear tomorrow”.
Sudah jam sepuluh malam sekarang tapi lampu dikamar uni masih menyala. Uni gelisah memikirkan lomba itu. Dia takut tidak bias tampil bagus. Bagaimana jika dia tiba-tiba dia lupa gerakan tarinya, wah pasti akan malu sekali. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Rupanya itu ibu Uni. “Honey, it’s 10 p.m., why don’t you get some sleep?”. Uni duduk dan menatap wajah ibunya sambil berkata, “I can’t sleep mom”.
“But why, dear? What are you thinking about?” Tanya ibunya.
“I’m thinking about my performance tomorrow” Jawab Uni.
“What if I can’t perform well. It will be embarrassing, mom” Lanjut Uni lagi.
“Well, dear. I know you had practiced for a week”
“I did, but …”
“And you remember all the steps, right?”
“I do”
“Then, there’s nothing to worry about. I’m sure that you’ll be okay tomorrow.”
“You think so, mom?” Tanya Uni ragu.
“All you have to do tomorrow is do your best and have faith in yourself” Jawab ibunya. “If you believe, you can do anything. Trust me” lanjut ibu.
Uni puas dengan kata-kata ibunya. Dia percaya besok dia bisa tampil dengan baik dalam lomba itu seperti yang dikatakan ibunya. Sekarang dia akan tidur dengan tenang dan tidak terlalu khawatir lagi dengan lomba besok. Karena Uni tahu dia akan menari dengan baik.
“Uni, come and have your breakfast” Ibu memanggil Uni dari dapur. Uni bergegas turun dengan membawa sebuah tas besar.
“Don’t forget to bring your costume, dear” kata ibu.
“I have it all in this paper-bag, mom”, jawab Uni.
“Good, now have your breakfast first”, kata ibu sambil mengambilkan sarapan untuk Uni.
“Dad, will you take me to school today?” Tanya Uni pada ayah yang telah lebih dulu berada di meja makan.
“Okay, no problem dear” Jawab ayah sambil meletakkan koran yang sedang dibacanya.
“Are you ready for the competition, sweetheart?” Tanya ayah pada Uni.
“I think I am. Wish me luck. Oh and don’t forget to bring the camera, dad” Kata Uni sambil tersenyum.
Ayah dan ibu mengantar Uni ke sekolah. Anak-anak sudah ramai disana. Beberapa dari mereka sudah memakai kostum mereka dan riasan wajah. Wah ternyata lucu juga teman-teman memakai kostum dan riasan wajah itu, pikir Uni. Uni jadi tidak sabar menanti gilirannya untuk dirias dan memakai kostum tarinya. Uni sedang dibantu ibu mengenakan kostum ketika ibu guru memanggilnya untuk dirias. Akhirnya mereka siap untuk berangkat berlomba.
Panggung untuk lomba itu dibangun diatas air, beberapa meter dari bibir pantai. Sebuah lorong memanjang ke arah laut menghubungkan bibir pantai dengan panggung terapung itu. Para peserta lomba menunggu giliran untuk tampil dipinggir pantai. Tidak hanya para murid tapi juga orangtua meraka tampaknya sudah tidak sabar menunggu. Para orang tua itu ingin melihat penampilan anak-anak mereka. Hampir semua orang membawa kamera atau handycam untuk mengabadikan penampilan anak-anak mereka.
Melihat banyak orang disekelilingnya, Uni merasa gugup dan agak takut. Perasaan yang dirasakannya semalam muncul lagi. Dia mulai memikirkan lagi betapa malunya kalau dia membuat kesalahan ketika tampil nanti. Rupanya ibu memperhatikan kecemasan Uni. Sambil membelai punggung Uni, ibu berkata, “do you still remember what I said to you last night, don’t you?.
“Yes, mom. But these people …”, Uni tidak bisa meneruskan kata-katanya.
“Everything will be okay, dear. There’s nothing to worry about. I’m sure those kids feel the same. They get nervous too. Just believe yourself and you’ll be fine”, bisik ibu. Ciuman ibu dipipinya membuat Uni tenang. Oh, I love you mom, kata Uni dalam hati.
Akhirnya tibalah giliran sekolah Uni untuk tampil di panggung. Rino, teman sekelas Uni, mendapat giliran pertama membaca puisi. Penonton bertepuk tangan begitu Rino selesai membacakan puisinya. Setelah itu, giliran Uni dan tiga orang temannya maju untuk membawakan tariannya. Uni sedikit gugup ketika akan mulai menari tapi begitu dia melihat ibu melambaikan tangan kepadanya, Uni teringat apa yang dikatakan ibunya tadi.
Tanpa terasa Uni dan teman-temannya telah menyelesaikan tarian itu dan mereka tampil dengan sangat bagus. Mereka tidak membuat kesalahan sedikitpun. Ibu guru mereka berkata, “You’ve danced beautifully. I’m so proud of you” sambil memeluk Uni dan teman-temannya satu per satu. Uni is so happy and she run quickly to her mother and give her a hug. She said, “Thanks mom, I love you”. Ibu yang juga bangga dengan penampilan Uni dan teman-temannya tersenyum dan berkata, “I love you too, sweetheart”.
Uni akan selalu mengingat nasehat ibu padanya ketika dia merasa gelisah dan gugup setiap kali akan melakukan sesuatu. Kita bias melakukan apa saja jika kita percaya bahwa kita bisa. You can do anything if you believe. Just have faith in yourself. Uni telah membuktikan nasehat ibunya itu benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar